Bismillhahirahmanirahim.
Assalamu 'alaikum ikhwan fillah rahimakumullah.
Apakah mungkin Bumi, tempat berpjiak
sekitar enam milyar manusia, pernah berpadu dengan langit?
Pertanyaan ini menjadi sangat masuk akal bila dilontarkan
oleh kita sebagai manusia awam.
Rasanya
sangat tidak masuk akal bila bumi pernah bersatu dengan langit. Bukankah langit
sangat luas bila dibandingkan dengan luasnya Planet Bumi? Jika keduanya pernah
menyatu, ada kemungkinan bahwa bahan dasar pembentuknya sama. Pertanyaan
pertama di atas akan memunculkan sekian pertanyaan berikutnya yang sulit dijawab.
Satu hal yang perlu kita catat adalah tidak mungkin Al-Quran menyebutkan
informasi tersebut jika tidak mengandung makna yang luar biasa.
Mari kita telusuri siklus perjalanan alam
semesta sejak kalahirannya. Sains modern telah menjelaskan bahwa tanda-tanda
atau jejak proses kelahiran bintang-bintang dan galaksi telah terdeteksi olehh
teleskop-teleskop canggih seperti Hubble pada abad ke-20. Adakah kesesuaian
antara temuan sains tersebut dengan penjelasan Al-Quran?
Proses kelahiran alam semesta
ternyata telah dimulai sejak sekitar 18 miliar tahun yang lalu, yaitu sebelum
terjadinya ledakan kosmis yang sangat dahsyat dari sebuah titik Singularitas.
Ledakan itu dikenal dengan peristiwa Big Bang yang terjadi sekitar 13,7 miliar
tahun yang lalu. Prof. jean Claude Batelere dari College de France menyajikan
tiga acuan untuk mendeteksi terjadinya ledakan kosmik tersebut, yaitu elemen
kimia (Chemical Element) tertua, klaster bintang (Globular Cluster) tertua, dan
bintang kurcaci putih (White Dwarf Star) tertua di jagat raya. Dari informasi
tersebut kita dapat menganalogikan proses dari sebuah titik sampai mrnjadi
suatu ledakan dahsyat kosmik ternyata membutuhkan waktu kurang lebih 4,3
mmiliar tahun. Masa ini hamper sama dengan umur Planet Bimu, yaitu sekitar 4,56
miliar tahun.
Peristiwa Big Bang yangb terlah
dikemukakan oleh Georges Lemaitre. George Gamow pada tahun 1930-an, dan Stephen
Hawking pada tahun 1980-an tersebut telah menjelaskan kejadian awal alam
semesta. Teori tersebut menjelaskan bahwa alam semesta awalnya tersusun dari
sebuah titik yang sangat rapat, padat, dan panas, yang disebut titik
Singularitas, yaitu sebuah titik yang tidak terdefinisikan. Dari titik inilah
suatu ledakan kosmis mahadahsyat yang disebut sebagai Big Bang terjadi dan
membentuk atom-atom Hidrogen (H), Helium (He), Proton, Elektron, dan Neutron
dalam hitungan menit.
Sejak saat itu masa keemasan alam
semesta terjadi. Bintang-bintang, proto-proto galaksi, galaksi-galaksi, dan
Quasar mulai terbentuk. Semuanya terkendali dalam jaring-jaring gravitasi yang
sudah terbentuk sejak awal, sbelum ledakan kosmis tersebut. Selanjutnya, alam
semesta mengembang dan berangsur dingin.
Ternyata
Allah Swt. Telah menjelaskan kejadian tersebut di dalam QS. Al-Anbiyἇ ayat 30.

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak
mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang
padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala
sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al-Anbiya [21]: 30 ).
Peristiwa
Big Bang di atas dijelaskan oleh Al-Quran dengan sangat indah dan bijaksana.
Allah Swt. Hanya mengatakan bahwa “langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah
suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya”. Selanjutnya, Allah
Swt. menjelaskan bahwa segala sesuatu yang hidup itu diciptakan dari air.
Ternyata Al-Quran menyajikan
informasi yang sangat akurat bahwa pada awalnya langit dan bumi memang berpadu
dalam satu titik Singularitas sebagai asal segala yang ada di jagat raya. Subhȃnallȃh.
Selanjutnya, kita mungkin berpikir
keras untuk memahami pengertian bahwa semua kehidupan itu berasal dari air.
Tiga ahli kosmologi dan astronomi, yaitu Georges Lemaitre, George Gamow, dan
Stephen Hawking menjelaskan bahwa atom-atom yang terbentuk sejak peristiwa Big
Bang adalah atom Hidrogen (H) dan Helium (He). Bukankah air terdiri dari atom
Hidrogen dan Oksigen (H²O)/ Artinya, sejak 1400 tahun silam Al-Quran telah
menyebutkannya jauh sebelum tiga pakar tersebut mengemukakan teorinya.
Hampir seluruh pakar percaya bahwa
system tata surya terbentuk kurang lebih sejak 5,0-4,56 miliar tahun lalu.
Sistem itu terbentuk dari suatu awan gas raksasa dan debu yang disebut sebagai
Solar Nebula. Solar Nebula berasal dari sebuah bintang yang berakhir hiddunya
lalu meledak dan disebut sebagai Supernova.. Dari Supernova inilah bintang
matahari kita terbentuk, yang kemudian diikuti oleh Planet Bumi sekitar 500
juta tahun kemudian.
Berdasarkan pengamatan para ahli,
alam semesta mengembang dengan laju percepatan yang sangat mengherankan dan
menakjubkan setelah proses pembentukannya. Salah satu cara untuk mengerti
konsep pengambangan alam semesta adalah dengan menggambar titik-titik, sebagai
perumpamaan galaksi-galaksi, di atas sebuah balon. Ketika balon itu ditiup
setiap titik tersebut akan saling bergerak menjauh.
Bila seseorang melihat alam semesta dari sebuah galaksi ,
semua galaksi akan terlihat saling menjauh. Galaksi yang jauh terlihat bergerak
semakin menjauh satu sama lain lebih cepat dibandingkan dengan galaksi yang
lebih dekat. Itulah penjelasan Hukum Hubble.
Beberapa ahli astronomi percaya
bahwa perluasan atau pengembangan alam semesta akan terus berlanjut, sedangkan
beberapa ahli lainnya meyakini pada suatu saat alam semesta akan mulai
mengerut.
Di dalam ayat ebrikut Allah Swt.
telah memaparakan dengan sangat jelas bahwa alam semesta memang meluas atau
mengembang.

Dan langit itu Kami bangun dengan
kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskan (mengembangkan)
nya (QS. Adz-Dzariyȃt [51]: 47).
Kata mȗsi’ȗn dalam bahasa Arab sangatlah tepat diterjamahkan sebagai
“meluaskan” atau “mengembangkan” yang sesuai dengan penjelasan sains masa kini
bahwa alam semesta memang meluas atau mengembang.
Stephen Hawking dalam A Brief History of Time (1980), mengatakan
bahwa penemuan bukti mengembangnya alam semesta merupakan salah satu revolusi
terbesar dalam ilmu pengetahuan abad ke-20.
Berdasarkan teori Big Bang yang
telah diterima, alam semesta terbentuk sekitar 13,7 miliar tahun lalu dan terus
mengembang sejak saat itu. Pakar-pakar astronomi mengenali empat model grafik
alam semesta di masa yang akan dating, yaitu accelerating expansion (pengembangan yang bertambah cepat), open universe (alam semesta terbuka), flat universe (alam semesta datar), dan closed universe (alam semesta tertutup).
Suatu saat nanti akan terjadi Big
Crunch, yaitu tabrakan seluruh isi alam semesta yang terdiri atas kumpulan
galaksi, bintang, dan planet. Hal ini adalah kebalikan dari awal
pembentukannya. Alam semesta perlahan menuju titik keseimbangan barunya, dan
akhirnya kehilangan tenaga sehingga tersedot kembali oleh gaya gravitasi awal
pembentukannya.
Alhamdulillah
Al-Quran telah menjelaskan penjelasan tersebut, seperti bunyi firman Allah
Swt. dibawah ini.

(Yaitu) pada hari Kami gulung langit
sebagai menggulung lembaran - lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai
panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang
pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. (QS. Al-Anbiyȃ [21]: 104).
Maka pada hari itu terjadilah hari
kiamat. Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. (QS. Al-Hȃqqah [69]: 15-16).
Subhȃnallah. Allah Swt. telahjelas mengatakan:
“…Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan
mengulanginy.” Tepat sekali diksi yang disajikan Al-Quran bahwa bila pertama
kali langit diciptakan melalui Big Bang, pada akhirnya langit akan dikembalikan
oleh-Nya melalui proses yang dal sains disebut Big Crunch. Hal ini termaktub dalam
firman-Nya: “Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi
lemah.”
Mengapa Allah Swt. mengatakan bahwa
pada waktu kiamat langit menjadi “lemah”? Menurut penjelasan sains, suatu saat
energy percepatan dan mengembangnya alam semesta akan seimbang dengan gaya
tariknya atau dapat dikatakan sama dengan nol. Selanjutnya, gaya tarik awalnya
perlahan-lahan menarik semua benda-benda langit yang berpencar untuk disatukan
kembali pada titk awalnya. Itulah awal terjadinya kehancuran alam semesta atau
yang disebut sebagai kiamat kubra.
Wallȃhu a’lam bish-shawwȃb. Marilah kita teruskan penelusuran kita ini
untuk merenung lebih dalam lagi.
Akhirnya, kita menyadari makna
ungkapan Allah Swt. kun fayakȗn yang
artinya “Jadilah!, maka terjadilah”. Ternyata konsep seketika dalam dimensi
waktu Allah Swt. membutuhkan kurang lebih 18 miliar tahun dalam dimensi waktu
manusia. Makna penggalan dari sebuah titik menjadi alam semesta yang berisi
miliaram galaksi dan triliunan bintang. Salah satu bintangnya disebut Matahari
yang berada dalam gugusan bintang Bimasakti (Milky Way), tempat bumi kita mengorbit pada lintasannya. Wallȃhu a’lam bish-shawwȃb.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar