Pilarian

Minggu, 06 Januari 2013

Bumi dan Langit Pernah Berpadu






Bismillhahirahmanirahim.
Assalamu 'alaikum ikhwan fillah rahimakumullah.

Apakah mungkin Bumi, tempat berpjiak sekitar enam milyar manusia, pernah berpadu dengan langit?
Pertanyaan ini menjadi sangat masuk akal bila dilontarkan oleh kita sebagai manusia awam.
Rasanya sangat tidak masuk akal bila bumi pernah bersatu dengan langit. Bukankah langit sangat luas bila dibandingkan dengan luasnya Planet Bumi? Jika keduanya pernah menyatu, ada kemungkinan bahwa bahan dasar pembentuknya sama. Pertanyaan pertama di atas akan memunculkan sekian pertanyaan berikutnya yang sulit dijawab. Satu hal yang perlu kita catat adalah tidak mungkin Al-Quran menyebutkan informasi tersebut jika tidak mengandung makna yang luar biasa.
             Mari kita telusuri siklus perjalanan alam semesta sejak kalahirannya. Sains modern telah menjelaskan bahwa tanda-tanda atau jejak proses kelahiran bintang-bintang dan galaksi telah terdeteksi olehh teleskop-teleskop canggih seperti Hubble pada abad ke-20. Adakah kesesuaian antara temuan sains tersebut dengan penjelasan Al-Quran?
            Proses kelahiran alam semesta ternyata telah dimulai sejak sekitar 18 miliar tahun yang lalu, yaitu sebelum terjadinya ledakan kosmis yang sangat dahsyat dari sebuah titik Singularitas. Ledakan itu dikenal dengan peristiwa Big Bang yang terjadi sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu. Prof. jean Claude Batelere dari College de France menyajikan tiga acuan untuk mendeteksi terjadinya ledakan kosmik tersebut, yaitu elemen kimia (Chemical Element) tertua, klaster bintang (Globular Cluster) tertua, dan bintang kurcaci putih (White Dwarf Star) tertua di jagat raya. Dari informasi tersebut kita dapat menganalogikan proses dari sebuah titik sampai mrnjadi suatu ledakan dahsyat kosmik ternyata membutuhkan waktu kurang lebih 4,3 mmiliar tahun. Masa ini hamper sama dengan umur Planet Bimu, yaitu sekitar 4,56 miliar tahun.
            Peristiwa Big Bang yangb terlah dikemukakan oleh Georges Lemaitre. George Gamow pada tahun 1930-an, dan Stephen Hawking pada tahun 1980-an tersebut telah menjelaskan kejadian awal alam semesta. Teori tersebut menjelaskan bahwa alam semesta awalnya tersusun dari sebuah titik yang sangat rapat, padat, dan panas, yang disebut titik Singularitas, yaitu sebuah titik yang tidak terdefinisikan. Dari titik inilah suatu ledakan kosmis mahadahsyat yang disebut sebagai Big Bang terjadi dan membentuk atom-atom Hidrogen (H), Helium (He), Proton, Elektron, dan Neutron dalam hitungan menit.
            Sejak saat itu masa keemasan alam semesta terjadi. Bintang-bintang, proto-proto galaksi, galaksi-galaksi, dan Quasar mulai terbentuk. Semuanya terkendali dalam jaring-jaring gravitasi yang sudah terbentuk sejak awal, sbelum ledakan kosmis tersebut. Selanjutnya, alam semesta mengembang dan berangsur dingin.
            Ternyata Allah Swt. Telah menjelaskan kejadian tersebut di dalam QS. Al-Anbiy ayat 30.
 Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al-Anbiya [21]: 30 ).
Peristiwa Big Bang di atas dijelaskan oleh Al-Quran dengan sangat indah dan bijaksana. Allah Swt. Hanya mengatakan bahwa “langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya”. Selanjutnya, Allah Swt. menjelaskan bahwa segala sesuatu yang hidup itu diciptakan dari air.
            Ternyata Al-Quran menyajikan informasi yang sangat akurat bahwa pada awalnya langit dan bumi memang berpadu dalam satu titik Singularitas sebagai asal segala yang ada di jagat raya. Subhȃnallȃh.
            Selanjutnya, kita mungkin berpikir keras untuk memahami pengertian bahwa semua kehidupan itu berasal dari air. Tiga ahli kosmologi dan astronomi, yaitu Georges Lemaitre, George Gamow, dan Stephen Hawking menjelaskan bahwa atom-atom yang terbentuk sejak peristiwa Big Bang adalah atom Hidrogen (H) dan Helium (He). Bukankah air terdiri dari atom Hidrogen dan Oksigen (H²O)/ Artinya, sejak 1400 tahun silam Al-Quran telah menyebutkannya jauh sebelum tiga pakar tersebut mengemukakan teorinya.
            Hampir seluruh pakar percaya bahwa system tata surya terbentuk kurang lebih sejak 5,0-4,56 miliar tahun lalu. Sistem itu terbentuk dari suatu awan gas raksasa dan debu yang disebut sebagai Solar Nebula. Solar Nebula berasal dari sebuah bintang yang berakhir hiddunya lalu meledak dan disebut sebagai Supernova.. Dari Supernova inilah bintang matahari kita terbentuk, yang kemudian diikuti oleh Planet Bumi sekitar 500 juta tahun kemudian.
            Berdasarkan pengamatan para ahli, alam semesta mengembang dengan laju percepatan yang sangat mengherankan dan menakjubkan setelah proses pembentukannya. Salah satu cara untuk mengerti konsep pengambangan alam semesta adalah dengan menggambar titik-titik, sebagai perumpamaan galaksi-galaksi, di atas sebuah balon. Ketika balon itu ditiup setiap titik tersebut akan saling bergerak menjauh.
Bila seseorang melihat alam semesta dari sebuah galaksi , semua galaksi akan terlihat saling menjauh. Galaksi yang jauh terlihat bergerak semakin menjauh satu sama lain lebih cepat dibandingkan dengan galaksi yang lebih dekat. Itulah penjelasan Hukum Hubble.
            Beberapa ahli astronomi percaya bahwa perluasan atau pengembangan alam semesta akan terus berlanjut, sedangkan beberapa ahli lainnya meyakini pada suatu saat alam semesta akan mulai mengerut.
            Di dalam ayat ebrikut Allah Swt. telah memaparakan dengan sangat jelas bahwa alam semesta memang meluas atau mengembang.
Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskan (mengembangkan) nya (QS. Adz-Dzariyȃt [51]: 47).
            Kata mȗsi’ȗn dalam bahasa Arab sangatlah tepat diterjamahkan sebagai “meluaskan” atau “mengembangkan” yang sesuai dengan penjelasan sains masa kini bahwa alam semesta memang meluas atau mengembang.
            Stephen Hawking dalam A Brief History of Time (1980), mengatakan bahwa penemuan bukti mengembangnya alam semesta merupakan salah satu revolusi terbesar dalam ilmu pengetahuan abad ke-20.
            Berdasarkan teori Big Bang yang telah diterima, alam semesta terbentuk sekitar 13,7 miliar tahun lalu dan terus mengembang sejak saat itu. Pakar-pakar astronomi mengenali empat model grafik alam semesta di masa yang akan dating, yaitu accelerating expansion (pengembangan yang bertambah cepat), open universe (alam semesta terbuka), flat universe (alam semesta datar), dan closed universe (alam semesta tertutup).
            Suatu saat nanti akan terjadi Big Crunch, yaitu tabrakan seluruh isi alam semesta yang terdiri atas kumpulan galaksi, bintang, dan planet. Hal ini adalah kebalikan dari awal pembentukannya. Alam semesta perlahan menuju titik keseimbangan barunya, dan akhirnya kehilangan tenaga sehingga tersedot kembali oleh gaya gravitasi awal pembentukannya.
            Alhamdulillah Al-Quran telah menjelaskan penjelasan tersebut, seperti bunyi firman Allah Swt. dibawah ini.

(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran - lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. (QS. Al-Anbiyȃ [21]: 104).


Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. (QS. Al-Hȃqqah [69]: 15-16).
Subhȃnallah. Allah Swt. telahjelas mengatakan: “…Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginy.” Tepat sekali diksi yang disajikan Al-Quran bahwa bila pertama kali langit diciptakan melalui Big Bang, pada akhirnya langit akan dikembalikan oleh-Nya melalui proses yang dal sains disebut Big Crunch. Hal ini termaktub dalam firman-Nya: “Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah.”
            Mengapa Allah Swt. mengatakan bahwa pada waktu kiamat langit menjadi “lemah”? Menurut penjelasan sains, suatu saat energy percepatan dan mengembangnya alam semesta akan seimbang dengan gaya tariknya atau dapat dikatakan sama dengan nol. Selanjutnya, gaya tarik awalnya perlahan-lahan menarik semua benda-benda langit yang berpencar untuk disatukan kembali pada titk awalnya. Itulah awal terjadinya kehancuran alam semesta atau yang disebut sebagai kiamat kubra. Wallȃhu a’lam bish-shawwȃb. Marilah kita teruskan penelusuran kita ini untuk merenung lebih dalam lagi.
            Akhirnya, kita menyadari makna ungkapan Allah Swt. kun fayakȗn yang artinya “Jadilah!, maka terjadilah”. Ternyata konsep seketika dalam dimensi waktu Allah Swt. membutuhkan kurang lebih 18 miliar tahun dalam dimensi waktu manusia. Makna penggalan dari sebuah titik menjadi alam semesta yang berisi miliaram galaksi dan triliunan bintang. Salah satu bintangnya disebut Matahari yang berada dalam gugusan bintang Bimasakti (Milky Way), tempat bumi kita mengorbit pada lintasannya. Wallȃhu a’lam bish-shawwȃb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar